HAKIKAT KOMUNIKASI DAN ONTOLOGI KOMUNIKASI
Pentingnya studi
komunikasi karena permasalahan-permasalahan yang timbul
akibatkomunikasi. Manusia tidak bisa hidup sendirian, tetapi secara
kodrat harus hidup bersamamanusia lain, baik demi kelangsungan hidupnya,
keamanan hidupnya, maupun demiketurunannya. Jelasnya, manusia harus
hidup bermasyarakat. Masyarakat bisa berbentuk kecil,sekecil rumah
tangga yang hanya terdiri dari dua orang suami istri, bisa berbentuk
besar, sebesarkampung, desa, kecamatan, kabupaten atau kota, propinsi,
dan negara. Semakin besar suatumasyarakat yang berarti semakin banyak
manusia yang dicakup, cenderung akan semakinbanyak masalah yang timbul,
akibat perbedaan-perbedaan di antara manusia yang banyak itudalam
pikirannya, perasaannya, kebutuhannya keinginannya, sifatnya, tabiatnya,
pandanganhidupnya, kepercayaannya, aspirasinya, dan lain sebagainya.
Dalam pergaulan hidup manusiayang beraneka ragam itu terjadi interaksi,
saling mempengaruhi demi kepentingan dankeuntungan pribadi
masing-masing. Terjadilah saling mengungkapkan pikiran dan perasaandalam
bentuk percakapan.
Hakikat komunikasi adalah proses
pernyataan antarmanusia. Yang dinyatakan itu adalah pikiran atau
perasaanseseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai
alat penyalurnya. Dalam"bahasa" komunikasi pernyataan dinamakan pesan
(message), orang yang menyampaikan pesandisebut komunikator
(communicator) sedangkan orang yang menerima pernyataan diberi
namakomunikan (communicatee). Untuk tegasnya, komunikasi berarti proses
penyampaian pesan olehkomunikator kepada komunikan. Jika dianalisis
pesan; komunikasi terdiri dari dua aspek,pertama isi pesan (the content
of the message), kedua lambang (symbol). Konkretnya isi pesan ituadalah
pikiran atau perasaan, lambang adalah bahasa. Pikiran dan perasaan
sebagai isi pesan yang disampaikan komunikator kepadakomunikan, selalu
menyatu secara terpadu; secara teoritis tidak mungkin hanya pikiran saja
atauperasaan saja, masalahnya mana di antara pikiran dan perasaan itu,
yang dominan. Yang palingsering adalah pikiran yang dominan; jika
perasaan yang mendominasi pikiran hanyalah dalamsituasi tertentu,
misalnya suami sebagai komunikator ketika sedang marah mengucapkan
kata-kata menyakitkan.
Pada situasi di mana guru sedang mengajar, dai sedang berkhotbah,
penyiar televisisedang membaca berita, di situ isi pesan yang
disampaikan ketiga komunikator tersebutdidominasi oleh pikiran.
Komunikasi tidak lagi terjadi antara suami istri semata, tetapi
denganorang lain, baik sebagai komunikator maupun
komunikan. Ferdinand Tonniesmengklasifikasikan pergaulan
hidup manusia menjadi dua jenis, yakni Gemeinschaft danGesellschaft.
Yang dikategorikan Gemeinschaft adalah pergaulan hidup dengan ciri-ciri
pribadi(personal), tak rasional (irrational) dan statis, sedangkan
Gesellschaft merupakan pergaulanhidup dengan ciri-ciri tak pribadi
(impersonal), rasional (rational) dan dinamis. Gesellschaftadalah
pergaulan hidup yang serba formal, birokratis, dan kaku disebabkan
peraturan-peraturanyang mengikat dan membatasi. Di situ terdapat
pemimpin dan bawahan atau pengikut yangdipimpin, yang harus taat, patuh,
disiplin yang sjfatnya sanksional. Gesellschaft bisa berbentukjawatan,
perusahaan, lembaga, badan, partai politik, dan lain sebagainya. Oleh
karena pergaulanhidup dalam Gesellschaft bersifat tak pribadi maka
komunikasi seringkali tidak berlangsungdengan baik disebabkan hambatan
psikologis, sosiologis, atau antropologis. Dewasa ini orang-orang
semakin asyik mempelajari ilmu komunikasi oleh karena jikaseseorang
salah komunikasinya (miscommunication), maka orang yang dijadikan
sasaranmengalami salah persepsi (misperception), yang
pada gilirannya salah interpretasi(misinterpretation), yang pada
giliran berikutnya terjadi salah pengertian (misunderstanding).Dalam
hal-hal tertentu salah pengertian ini menimbulkan salah perilaku
(misbehavior), danapabila komunikasinya berlangsung berskala nasional,
akibatnya bisa fatal. Situasi komunikasiyang semakin pelik itu
mengundang pertanyaan yang hakiki yang memerlukan jawaban yanghakiki
pula. Apa sebenarnya komunikasi itu? Pengertian komunikasi secara
etimologis berasal dari perkataan latin "communicatio",Istilah ini
bersumber dari perkataan "communis" yang berarti sama; sama di sini
maksudnyasama makna atau sama arti. Jadi komunikasi terjadi apabila
terdapat kesamaan makna mengenaisuatu pesan yang disampaikan oleh
komunikator dan diterima oleh komunikan. Jika tidak terjadikesamaan
makna antara kedua aktor komunikasi (communication actors) —- yakni
komunikatordan komunikan itu, dengan perkataan lain, komunikan tidak
mengerti pesan yang diterimanya,maka komunikasi tidak terjadi. Dalam
rumusan lain, situasi tidak komunikatif. Situasikomunikatif bisa berupa
pidato, ceramah, khotbah, dan lain-lain, baik situasi komunikasi
lisanmaupun tulisan.
Ada dua
kemungkinan yang menyebabkan buku ini tidakkomunikatif bagi anda.
Kemungkinan pertama penulis tidak mampu mengarang; kemungkinankedua
tingkat pendidikan anda terlalu rendah untuk bisa menyimak makna-makna
dari kalimatdalam buku ini. Sebaliknya bila anda memahami isi buku yang
anda sedang baca ini berarti bukuini komunikatif bagi anda.
Penyebab utama terjadinya situasi komunikatif itu adalah karena isi buku
ini, baikpemilihan kata-katanya maupun susunan kalimatnya cocok dengan
apa yang dinamakan WilburSchramm frame of reference atau dalam bahasa
Indonesianya kerangka acuan, yaitu paduanpengalaman dan pengertian
(collection of experiences and meanings) anda. Schrammmenyatakan bahwa
field of experience atau bidang pengalaman merupakan faktor yang
amatpenting untuk terjadinya komunikasi. Apabila bidang pengalaman
komunikator sama denganbidang pengalaman komunikan, komunikasi akan
berlangsung lancar. Sebaliknya, jikalaupengalaman komunikan tidak sama
dengan pengalaman komunikator, akan timbul kesukaranuntuk mengerti satu
sama lain; dengan perkataan lain situasi menjadi tidak komunikatif;
ataudengan rumusan lain terjadi miscommunication (miskomunikasi). Banyak
lagi faktor-faktor lainyang menyebabkan terjadinya miskomunikasi atau
komunikasi yang salah itu.
Ontologi Dalam KomunikasiAsumsi-asumsi
ontologis dalam komunikasi menjelaskan kepercayaan tentang ruang
lingkupkomunikasi antar manusia dan komunikasi itu sendiri. Kita perlu
mengkaji 3 paradigmaontologis yang mempengaruhi ilmuwan komunikasi untuk
memahami secara utuh mengenaikepercayaan ontologis kontemporer.
Ketiga paradigma ontologis itu adalah mekanisme,aksionalisme, dan
realisme aksional.MekanismeParadigma mekanisme biasa disebut
determinisme. Mekanisme berasal dari bahasa latin“machin” yang berarti
mesin. Dalam paradigma ini manusia dipandang seperti mesin yang
tidakmemotivasi diri dan tidak punya pilihan. Manusia ditentukan oleh
lingkungan di mana dia hidup.
Menururt perspektif ini, manusia dianggap
aktif yang meilih tujuan-tujuannya dan kemampuanmemilih atau mengacu
pada tujuan-tujuan atau keinginan-keinginan serta alasan
seseorangberperilaku.Realisme aksionalBahwa teori komunikasi baru
diangap memadai apabila mencakup didalamnya kekuatan kulturalyang
senantiasa muncul dalam persepsi-persepsi seseorang serta harus
memunculkan orangsebagai aktor sosial.ASUMSI-ASUMSI ONTOLOGI
KONTEMPORER Ada 8 asumsi tentang komunikasi antar manusia yang mewarnai
pemikian ilmuwankontemporer : 1. Komunikasi sebagai realitas sosial
Fenomena komunikasi manusia merupakan merupakan realitas sosial.
Perhatikan pernyataan ini : “Anda kelihatan cantik sekali, sayang”
untuk memahami hakikat komunikasi yang bernuansa sosial. Jika kalimat
atau pernyataan ini diungkapkan oleh seorang romantis pada kekasihnya,
maka pernyataan ini cenderung diinterpretasikan sebagai suatu pujian
atau ungkapan rasa sayang. Namun demikian, bila seorang majikan
perusahaan mengungkapkan kalimat itu pada seorang karyawati baru, maka
pernyataan itu mungkin akan diinterpretasikan sebagai pelecehan
seksual atau sapaan yang kurang pantas. Ilustrasi di atas menunjukkan
bahwa, orang menciptakan fenomena komunikasi dengan memberikan makna
yang sama pada perilaku-perilaku verbal dan non-verbal.
Komunikasi
sebagai proses kreatif Kita ambil satu episode, seperti argumen
untuk menjelaskan peran kreatif komunikasi. Argumen adalah satu
fenomena komunikasi, walaupun argumen diciptakan oleh unit-unit
komunikasi yang lebih kecil yang disebut tindakan berbicara (speech-act)
Disamping itu, melalui proses kreatif ini komunikasi memainkan peran
yang lebih luas dalam membangun realitas-realitas sosial
nonkomunikatif. Realitas-realitas sosial yang bermacam- macam mulai
dari konsep diri seseorang melalui hubungan-hubungan sosial yang kita
bangun dengan orang lain, melalui komunitas-komunitas sosial yang lebih
luas,
kelompok-kelompok kecil, organisasi, sub-budaya, dan budaya-budaya yang
seluruhnya tercipta melalui proses komunikasi antara seseorang dengan
orang lain. Misalnya, persepsi diri kita merupakan fungsi dari
reaksi-reaksi komunikatif yang negatif dan positif orang lain. Begitu
pula bila kita membangun dan mempertahankan dengan teman atau kekasih,
maka kita melakukannya dengan cara membicarakan
kepentingan-kepentingan kita yang sama dengan orang lain
Kelompok-kelompok sosial kecil hingga kelompok bangsa dan negara juga
dipersatukan melalui rasa saling membutuhkan dan dinyatakan melalui
proses komunikasi. Dalam hal ini, semua kontrak-kontrak sosial
diciptakan, dipertahankan, dan dihancurkan melalui tindakan
pembicaraan.
Komunikasi sebagai proses pengembangan Sejalan
dengan sifatnya yang kreatif, komunikasi manusia merupakan suatu proses
yang terus berkembang, maksudnya sisi dan karakter komunikasi serta
realitas-realitas sosial yang diciptakannya senantiasa berkembang dan
mengalami perubahan sepanjang masa. Pada saat orang berbicara satu
dengan yang lain, mulai dari saat pertama bertemu hingga ke tahap
hubungan yang lebih akrab, maka komunikasinya terus mengalami perubahan
dan perubahan-perubahan inilah yang memberi bentuk hubungan itu
sendiri. Jadi dengan demikian, komunikasi merupakan proses perubahan
yang terus menerus senantiasa mengubah diri kita dan dunia sosial
kita.
Komunikasi sebagai sistem yang kompleks Berbeda dengan
pandangan awal munculnya komunikasi sebagai sesuatu yang sederhana dan
hanya merupakan proses pengaruh satu arah. Para ilmuwan komunikasi
dewasa ini meyakini bahwa komunikasi manusia merupakan suatu proses
yang kompleks, yaitu suatu sistem tindakan dan makna yang saling
berhubungan satu dengan yang lain. Orang tidak berkomunikasi dalam
situasi yang vakum, tetapi tiap tindakan dan makna seseorang hanya
dapat dipahami dalam hubungannya dengan pesan-pesan resiprokal orang
lain serta situasi dan tempat terjadinya pertukaran pesan. Tiap bagian
dari sistem komunikasi akan mempengaruhi bagian yang lain dan
keseluruhan episode komunikasi lebih dari sekedar jumlah seluruh
tindakan pembicaraan individu yang berkomunikasi pada saat itu.
Sejalan dengan pendangan komunikasi sebagai
suatu sistem, penelitian komunikasi dewasa ini pada umumnya memandang
komunikasi manusia sebagai suatu fenomena yang tergantung pada
konteks. Mereka berpendapat efek-efek yang ditimbulkan dari suatu
komunikasi sangat bervariasi, tergantung pada fungsi konteks fisik,
sosial, dan psikologis, Misalnya, pesan-pesan yang sifatnya mengancam
bisa saja melahirkan kepatuhan bila penerima pesan tersebut memiliki
status yang relatif lebih rendah dari komunikator, tetapi pesan
tersebut bisa saja menjadi pemicu perselisihan bila penerimanya punya
konteks status yang sama dengan komunikator. Dengan demikian,
komunikasi bisa saja dikontekstualkan tanpa menghilangkan makna
aslinya bagi seorang komunikator dan bagi peneliti yang meneliti hal
tersebut.
Komunikasi sebagai suatu aktifitas yang bertujuan
“Di kalangan peneliti Komunikasi”, kata Miller, kepercayaan terhadap
pesan kemauan atau kehendak diri manusia telah menggantikan paradigma
law governed (diatur oleh kaidah), yaitu paradigma perilaku komunikasi
yang deterministik. Pernyataan ini mencerminkan keyakinan banyak
ilmuwan komunikasi bahwa komunikasi manusia mampu memilih dan
bertindak menurut kehendak dirinya. Orang berkomunikasi karena punya
alasan-alasan yaitu untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya,
misalnya menciptakan citra publik yang positif atau karena
alasan-alasan tertentu untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya,
yaitu menciptakan hubungan yang berarti dan menciptakan citra publik
yang positif, serta karena alasan sosial dan material tertentu.
Dalam upaya memperoleh obyek-obyek yang diinginkannya, orang akan
memilih strategi- strategi komunikasi yang diyakini bisa memenuhi
kebutuhannya tersebut. Itulah sebabnya komunikasi sering dipandang
sebagai suatu aktifitas yang digunakan orang untuk mencapai apa yang
diinginkannya dan yang penting bagi orang lain.
Komunikasi sebagai
suatu realitas interaktif Seperti telah dinyatakan diatas, para
ahli teori komunikasi kontemporer sering memperkuat sikap ontologis
aksional dengan realisme yang percaya bahwa perilaku komunikasi
manusia dibentuk oleh interaksi antara individu yang mampu membuat
pilihan- pilihan dengan kekuatan yang pada saat itu di luar kontrak
pribadi komunikator. Fenomena tak terkontrol yang mempengaruhi
pilihan-pilihan komunikatif mencakup atribut-atribut.
psikologis seperti umur
dan kecerdasan, serta sindrom-sindrom kepribadian seperti sifat malu
dan dogmatisme. Menyangkut perspektif interaktif ini, Smih berpendapat
bahwa perilaku pilihan komunikasi terjadi dalam batas-batas yang
meluas dan menyempitsebagai suatu fungsi konteks yang relatif
potensial 8. Komunikasi sebagai suatu proses yang teratur. Para
ilmuwan komunikasi pada umumnya berpendapat bahwa perilaku komunikasi
manusia adalah terpola dan teratur, bukannya kacau dan tidak dapat
diramalkan. Karena manusia dipandang sebagai makhluk yang penuh dengan
pilihan-pilihan , maka sejumlah penulis menyatakan bahwa perilaku
manusia itu tidak terstruktur dan tidak dapat diramalkan, dan oleh
karena itu tidak dapat dipertanggung jawabkan sebagai studi ilmiah.
Hampir semua ilmuwan komunikasi menolak pandangan ini. Mereka
berpendapat bahwa perilaku-perilaku komunikatif dibangun dan
distrukturkan oleh makna-makna yang dilekatkan si komunikator pada
ujaran-ujarannya. Lagipula, asumsi tentang keinginan bebas, tidaklah
berarti bahwa makna-makna dan tindakan-tindakan seseorang bersifat
kacau dan tak dapat diprediksi. Banyak peneliti yang lebih percaya
bahwa kehendak manusia dilakukan dalam bentuk yang teratur, yaitu
komunikator secara konsisten mengikuti kaidah-kaidah makna dan tindakan
yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan-tujuan individual dan
kelompok.
weeeww,...
BalasHapuskereen mbak....
terima kasih untuk infonya. info ini sangat bermanfaat untuk siswa. postingannya sudah baik. tapi akan lebih baik lagi jika anda menambahkan variasi blog anda seperti menambahkan gedget dan template.
BalasHapus