Minggu, 06 Oktober 2013

HAKIKAT KOMUNIKASI DAN ONTOLOGI KOMUNIKASI

             Pentingnya studi komunikasi karena permasalahan-permasalahan yang timbul akibatkomunikasi. Manusia tidak bisa hidup sendirian, tetapi secara kodrat harus hidup bersamamanusia lain, baik demi kelangsungan hidupnya, keamanan hidupnya, maupun demiketurunannya. Jelasnya, manusia harus hidup bermasyarakat. Masyarakat bisa berbentuk kecil,sekecil rumah tangga yang hanya terdiri dari dua orang suami istri, bisa berbentuk besar, sebesarkampung, desa, kecamatan, kabupaten atau kota, propinsi, dan negara. Semakin besar suatumasyarakat yang berarti semakin banyak manusia yang dicakup, cenderung akan semakinbanyak masalah yang timbul, akibat perbedaan-perbedaan di antara manusia yang banyak itudalam pikirannya, perasaannya, kebutuhannya keinginannya, sifatnya, tabiatnya, pandanganhidupnya, kepercayaannya, aspirasinya, dan lain sebagainya. Dalam pergaulan hidup manusiayang beraneka ragam itu terjadi interaksi, saling mempengaruhi demi kepentingan dankeuntungan pribadi masing-masing. Terjadilah saling mengungkapkan pikiran dan perasaandalam bentuk percakapan.
        Hakikat komunikasi adalah proses pernyataan antarmanusia. Yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaanseseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Dalam"bahasa" komunikasi pernyataan dinamakan pesan (message), orang yang menyampaikan pesandisebut komunikator (communicator) sedangkan orang yang menerima pernyataan diberi namakomunikan (communicatee). Untuk tegasnya, komunikasi berarti proses penyampaian pesan olehkomunikator kepada komunikan. Jika dianalisis pesan; komunikasi terdiri dari dua aspek,pertama isi pesan (the content of the message), kedua lambang (symbol). Konkretnya isi pesan ituadalah pikiran atau perasaan, lambang adalah bahasa. Pikiran dan perasaan sebagai isi pesan yang disampaikan komunikator kepadakomunikan, selalu menyatu secara terpadu; secara teoritis tidak mungkin hanya pikiran saja atauperasaan saja, masalahnya mana di antara pikiran dan perasaan itu, yang dominan. Yang palingsering adalah pikiran yang dominan; jika perasaan yang mendominasi pikiran hanyalah dalamsituasi tertentu, misalnya suami sebagai komunikator ketika sedang marah mengucapkan kata-kata menyakitkan.

      Pada situasi di mana guru sedang mengajar, dai sedang berkhotbah, penyiar televisisedang membaca berita, di situ isi pesan yang disampaikan ketiga komunikator tersebutdidominasi oleh pikiran. Komunikasi tidak lagi terjadi antara suami istri semata, tetapi denganorang lain, baik sebagai komunikator maupun komunikan. Ferdinand Tonniesmengklasifikasikan pergaulan hidup manusia menjadi dua jenis, yakni Gemeinschaft danGesellschaft. Yang dikategorikan Gemeinschaft adalah pergaulan hidup dengan ciri-ciri pribadi(personal), tak rasional (irrational) dan statis, sedangkan Gesellschaft merupakan pergaulanhidup dengan ciri-ciri tak pribadi (impersonal), rasional (rational) dan dinamis. Gesellschaftadalah pergaulan hidup yang serba formal, birokratis, dan kaku disebabkan peraturan-peraturanyang mengikat dan membatasi. Di situ terdapat pemimpin dan bawahan atau pengikut yangdipimpin, yang harus taat, patuh, disiplin yang sjfatnya sanksional. Gesellschaft bisa berbentukjawatan, perusahaan, lembaga, badan, partai politik, dan lain sebagainya. Oleh karena pergaulanhidup dalam Gesellschaft bersifat tak pribadi maka komunikasi seringkali tidak berlangsungdengan baik disebabkan hambatan psikologis, sosiologis, atau antropologis. Dewasa ini orang-orang semakin asyik mempelajari ilmu komunikasi oleh karena jikaseseorang salah komunikasinya (miscommunication), maka orang yang dijadikan sasaranmengalami salah persepsi (misperception), yang pada gilirannya salah interpretasi(misinterpretation), yang pada giliran berikutnya terjadi salah pengertian (misunderstanding).Dalam hal-hal tertentu salah pengertian ini menimbulkan salah perilaku (misbehavior), danapabila komunikasinya berlangsung berskala nasional, akibatnya bisa fatal. Situasi komunikasiyang semakin pelik itu mengundang pertanyaan yang hakiki yang memerlukan jawaban yanghakiki pula. Apa sebenarnya komunikasi itu? Pengertian komunikasi secara etimologis berasal dari perkataan latin "communicatio",Istilah ini bersumber dari perkataan "communis" yang berarti sama; sama di sini maksudnyasama makna atau sama arti. Jadi komunikasi terjadi apabila terdapat kesamaan makna mengenaisuatu pesan yang disampaikan oleh komunikator dan diterima oleh komunikan. Jika tidak terjadikesamaan makna antara kedua aktor komunikasi (communication actors) —- yakni komunikatordan komunikan itu, dengan perkataan lain, komunikan tidak mengerti pesan yang diterimanya,maka komunikasi tidak terjadi. Dalam rumusan lain, situasi tidak komunikatif. Situasikomunikatif bisa berupa pidato, ceramah, khotbah, dan lain-lain, baik situasi komunikasi lisanmaupun tulisan.       

       Ada dua kemungkinan yang menyebabkan buku ini tidakkomunikatif bagi anda. Kemungkinan pertama penulis tidak mampu mengarang; kemungkinankedua tingkat pendidikan anda terlalu rendah untuk bisa menyimak makna-makna dari kalimatdalam buku ini. Sebaliknya bila anda memahami isi buku yang anda sedang baca ini berarti bukuini komunikatif bagi anda. Penyebab utama terjadinya situasi komunikatif itu adalah karena isi buku ini, baikpemilihan kata-katanya maupun susunan kalimatnya cocok dengan apa yang dinamakan WilburSchramm frame of reference atau dalam bahasa Indonesianya kerangka acuan, yaitu paduanpengalaman dan pengertian (collection of experiences and meanings) anda. Schrammmenyatakan bahwa field of experience atau bidang pengalaman merupakan faktor yang amatpenting untuk terjadinya komunikasi. Apabila bidang pengalaman komunikator sama denganbidang pengalaman komunikan, komunikasi akan berlangsung lancar. Sebaliknya, jikalaupengalaman komunikan tidak sama dengan pengalaman komunikator, akan timbul kesukaranuntuk mengerti satu sama lain; dengan perkataan lain situasi menjadi tidak komunikatif; ataudengan rumusan lain terjadi miscommunication (miskomunikasi). Banyak lagi faktor-faktor lainyang menyebabkan terjadinya miskomunikasi atau komunikasi yang salah itu. 
 

    Ontologi Dalam KomunikasiAsumsi-asumsi ontologis dalam komunikasi menjelaskan kepercayaan tentang ruang lingkupkomunikasi antar manusia dan komunikasi itu sendiri. Kita perlu mengkaji 3 paradigmaontologis yang mempengaruhi ilmuwan komunikasi untuk memahami secara utuh mengenaikepercayaan ontologis kontemporer. Ketiga paradigma ontologis itu adalah mekanisme,aksionalisme, dan realisme aksional.MekanismeParadigma mekanisme biasa disebut determinisme. Mekanisme berasal dari bahasa latin“machin” yang berarti mesin. Dalam paradigma ini manusia dipandang seperti mesin yang tidakmemotivasi diri dan tidak punya pilihan. Manusia ditentukan oleh lingkungan di mana dia hidup.
 

      Menururt perspektif ini, manusia dianggap aktif yang meilih tujuan-tujuannya dan kemampuanmemilih atau mengacu pada tujuan-tujuan atau keinginan-keinginan serta alasan seseorangberperilaku.Realisme aksionalBahwa teori komunikasi baru diangap memadai apabila mencakup didalamnya kekuatan kulturalyang senantiasa muncul dalam persepsi-persepsi seseorang serta harus memunculkan orangsebagai aktor sosial.ASUMSI-ASUMSI ONTOLOGI KONTEMPORER Ada 8 asumsi tentang komunikasi antar manusia yang mewarnai pemikian ilmuwankontemporer : 1. Komunikasi sebagai realitas sosial Fenomena komunikasi manusia merupakan merupakan realitas sosial. Perhatikan pernyataan ini : “Anda kelihatan cantik sekali, sayang” untuk memahami hakikat komunikasi yang bernuansa sosial. Jika kalimat atau pernyataan ini diungkapkan oleh seorang romantis pada kekasihnya, maka pernyataan ini cenderung diinterpretasikan sebagai suatu pujian atau ungkapan rasa sayang. Namun demikian, bila seorang majikan perusahaan mengungkapkan kalimat itu pada seorang karyawati baru, maka pernyataan itu mungkin akan diinterpretasikan sebagai pelecehan seksual atau sapaan yang kurang pantas. Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa, orang menciptakan fenomena komunikasi dengan memberikan makna yang sama pada perilaku-perilaku verbal dan non-verbal.
        Komunikasi sebagai proses kreatif Kita ambil satu episode, seperti argumen untuk menjelaskan peran kreatif komunikasi. Argumen adalah satu fenomena komunikasi, walaupun argumen diciptakan oleh unit-unit komunikasi yang lebih kecil yang disebut tindakan berbicara (speech-act) Disamping itu, melalui proses kreatif ini komunikasi memainkan peran yang lebih luas dalam membangun realitas-realitas sosial nonkomunikatif. Realitas-realitas sosial yang bermacam- macam mulai dari konsep diri seseorang melalui hubungan-hubungan sosial yang kita bangun dengan orang lain, melalui komunitas-komunitas sosial yang lebih luas,
 

     kelompok-kelompok kecil, organisasi, sub-budaya, dan budaya-budaya yang seluruhnya tercipta melalui proses komunikasi antara seseorang dengan orang lain. Misalnya, persepsi diri kita merupakan fungsi dari reaksi-reaksi komunikatif yang negatif dan positif orang lain. Begitu pula bila kita membangun dan mempertahankan dengan teman atau kekasih, maka kita melakukannya dengan cara membicarakan kepentingan-kepentingan kita yang sama dengan orang lain Kelompok-kelompok sosial kecil hingga kelompok bangsa dan negara juga dipersatukan melalui rasa saling membutuhkan dan dinyatakan melalui proses komunikasi. Dalam hal ini, semua kontrak-kontrak sosial diciptakan, dipertahankan, dan dihancurkan melalui tindakan pembicaraan.
      Komunikasi sebagai proses pengembangan Sejalan dengan sifatnya yang kreatif, komunikasi manusia merupakan suatu proses yang terus berkembang, maksudnya sisi dan karakter komunikasi serta realitas-realitas sosial yang diciptakannya senantiasa berkembang dan mengalami perubahan sepanjang masa. Pada saat orang berbicara satu dengan yang lain, mulai dari saat pertama bertemu hingga ke tahap hubungan yang lebih akrab, maka komunikasinya terus mengalami perubahan dan perubahan-perubahan inilah yang memberi bentuk hubungan itu sendiri. Jadi dengan demikian, komunikasi merupakan proses perubahan yang terus menerus senantiasa mengubah diri kita dan dunia sosial kita.
    Komunikasi sebagai sistem yang kompleks Berbeda dengan pandangan awal munculnya komunikasi sebagai sesuatu yang sederhana dan hanya merupakan proses pengaruh satu arah. Para ilmuwan komunikasi dewasa ini meyakini bahwa komunikasi manusia merupakan suatu proses yang kompleks, yaitu suatu sistem tindakan dan makna yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Orang tidak berkomunikasi dalam situasi yang vakum, tetapi tiap tindakan dan makna seseorang hanya dapat dipahami dalam hubungannya dengan pesan-pesan resiprokal orang lain serta situasi dan tempat terjadinya pertukaran pesan. Tiap bagian dari sistem komunikasi akan mempengaruhi bagian yang lain dan keseluruhan episode komunikasi lebih dari sekedar jumlah seluruh tindakan pembicaraan individu yang berkomunikasi pada saat itu.
 

       Sejalan dengan pendangan komunikasi sebagai suatu sistem, penelitian komunikasi dewasa ini pada umumnya memandang komunikasi manusia sebagai suatu fenomena yang tergantung pada konteks. Mereka berpendapat efek-efek yang ditimbulkan dari suatu komunikasi sangat bervariasi, tergantung pada fungsi konteks fisik, sosial, dan psikologis, Misalnya, pesan-pesan yang sifatnya mengancam bisa saja melahirkan kepatuhan bila penerima pesan tersebut memiliki status yang relatif lebih rendah dari komunikator, tetapi pesan tersebut bisa saja menjadi pemicu perselisihan bila penerimanya punya konteks status yang sama dengan komunikator. Dengan demikian, komunikasi bisa saja dikontekstualkan tanpa menghilangkan makna aslinya bagi seorang komunikator dan bagi peneliti yang meneliti hal tersebut. 

 Komunikasi sebagai suatu aktifitas yang bertujuan “Di kalangan peneliti Komunikasi”, kata Miller, kepercayaan terhadap pesan kemauan atau kehendak diri manusia telah menggantikan paradigma law governed (diatur oleh kaidah), yaitu paradigma perilaku komunikasi yang deterministik. Pernyataan ini mencerminkan keyakinan banyak ilmuwan komunikasi bahwa komunikasi manusia mampu memilih dan bertindak menurut kehendak dirinya. Orang berkomunikasi karena punya alasan-alasan yaitu untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, misalnya menciptakan citra publik yang positif atau karena alasan-alasan tertentu untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, yaitu menciptakan hubungan yang berarti dan menciptakan citra publik yang positif, serta karena alasan sosial dan material tertentu. Dalam upaya memperoleh obyek-obyek yang diinginkannya, orang akan memilih strategi- strategi komunikasi yang diyakini bisa memenuhi kebutuhannya tersebut. Itulah sebabnya komunikasi sering dipandang sebagai suatu aktifitas yang digunakan orang untuk mencapai apa yang diinginkannya dan yang penting bagi orang lain.
 

       Komunikasi sebagai suatu realitas interaktif Seperti telah dinyatakan diatas, para ahli teori komunikasi kontemporer sering memperkuat sikap ontologis aksional dengan realisme yang percaya bahwa perilaku komunikasi manusia dibentuk oleh interaksi antara individu yang mampu membuat pilihan- pilihan dengan kekuatan yang pada saat itu di luar kontrak pribadi komunikator. Fenomena tak terkontrol yang mempengaruhi pilihan-pilihan komunikatif mencakup atribut-atribut.
 

        psikologis seperti umur dan kecerdasan, serta sindrom-sindrom kepribadian seperti sifat malu dan dogmatisme. Menyangkut perspektif interaktif ini, Smih berpendapat bahwa perilaku pilihan komunikasi terjadi dalam batas-batas yang meluas dan menyempitsebagai suatu fungsi konteks yang relatif potensial 8. Komunikasi sebagai suatu proses yang teratur. Para ilmuwan komunikasi pada umumnya berpendapat bahwa perilaku komunikasi manusia adalah terpola dan teratur, bukannya kacau dan tidak dapat diramalkan. Karena manusia dipandang sebagai makhluk yang penuh dengan pilihan-pilihan , maka sejumlah penulis menyatakan bahwa perilaku manusia itu tidak terstruktur dan tidak dapat diramalkan, dan oleh karena itu tidak dapat dipertanggung jawabkan sebagai studi ilmiah. Hampir semua ilmuwan komunikasi menolak pandangan ini. Mereka berpendapat bahwa perilaku-perilaku komunikatif dibangun dan distrukturkan oleh makna-makna yang dilekatkan si komunikator pada ujaran-ujarannya. Lagipula, asumsi tentang keinginan bebas, tidaklah berarti bahwa makna-makna dan tindakan-tindakan seseorang bersifat kacau dan tak dapat diprediksi. Banyak peneliti yang lebih percaya bahwa kehendak manusia dilakukan dalam bentuk yang teratur, yaitu komunikator secara konsisten mengikuti kaidah-kaidah makna dan tindakan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan-tujuan individual dan kelompok.